Perahu itu sudah dingin waktu Tern sampai di dermaga.
Old Ferryman duduk di buritan seperti biasa, galah bambu masih di pangkuan. Kabut menutup separuh sungai. Kalau tidak ada lalat yang hinggap di jenggotnya, Tern akan mengira ia tertidur.
Tern tidak menangis. Ia mengikat perahu dua kali, menyalakan tungku kecil di haluan, lalu merebus air. Itu pelajaran pertama yang ia ingat: kalau tidak tahu harus berbuat apa, rebus air.
Matahari naik. Kabut pergi. Di seberang dermaga, sembilan perahu sudah menunggu.
Tidak ada yang mendekat. Perahu Heron Gate diam seperti batang kayu. Perahu Lantern Ferry menyalakan lentera walau hari sudah terang. Dari perahu Willow Bell terdengar lonceng kecil, sekali, lalu sunyi lagi. Mereka datang untuk orang yang sama, dan tidak satu pun membawa bunga.
"Dia meninggalkan sesuatu," kata seseorang dari perahu Grey Egret Hall. Suaranya pelan. Di sungai, suara pelan justru terdengar paling jauh.
Tern pura-pura tidak mendengar. Ia membersihkan perahu papan demi papan, seperti tiap pagi selama sebelas tahun. Papan pertama. Papan kedua. Papan ketiga berbunyi lain di bawah kakinya.
Old Ferryman pernah bilang perahu yang baik tidak menyimpan rahasia. Baru sekarang Tern sadar, orang tua itu jarang jujur soal perahu.
Di bawah papan ketiga ada seikat alang-alang kering sepanjang satu depa. Simpulnya simpul tukang tambang, yang lepas dengan satu tarikan. Tern menariknya.
Gagangnya dililit alang-alang. Bilahnya lurus dan kusam, tanpa ukiran. Pedang orang miskin, kata siapa pun yang tidak tahu. Sembilan perahu di seberang tahu.
Lonceng Willow Bell berbunyi lagi. Kali ini dua kali.
Tern membungkus pedang itu kembali, meletakkannya di samping gurunya, dan mengambil galah. Masih ada satu pekerjaan sebelum siapa pun boleh naik ke perahu ini: menyeberangkan Old Ferryman untuk terakhir kalinya.
Sungai menunggu. Mereka juga.
Bab Satu dan Bab Dua bisa kamu mainkan di demo.

